23
Mon, Sep
11 New Articles

Lifestyle
Tools
Typography
Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Selama 15 tahun berturut-turut  penghargaan L’Oreal-UNESCO For Women in Science digelar secara nasional di Indonesia, memberikan dukungan nyata bagi para ilmuwan perempuan. L’Oreal Indonesia menyadari bahwa sains dan para ilmuwan memegang peranan penting dalam memberikan solusi bagi tantangan masa depan.   

Kesetaraan gender serta kondisi dunia sains dan perempuan di Indonesia khususnya, patut mendapatkan perhatian lebih. Menurut data UNESCO, jumlah mahasiswa perempuan lulusan bidang sains cukup tinggi, yakni sebanyak 52%, namun angka mahasiwa perempuan tingkat dokter hanyalah 35%. Hal ini menunjukkan, perempuan yang melanjutkan karier di bidang sains masih rendah. Tercatat jumlah ilmuwan perempuan hanya 31% saja dari total seluruh ilmuwan yang ada di Indonesia. Angka tersebut jauh lebih rendah dengan kondisi negara tetangga, misalnya Filipina dan Thailand, di mana jumlah peneliti perempuannya mencapai lebih dari 50%.

"Sejak 2004, kami berkomitmen untuk mendukung peran ilmuwan perempuan bagi kehidupan manusia melalui penemuan mereka. Kami percaya bahwa perempuan yang berkecimpung di bidang sains bisa mengubah dunia. Sebab dunia membutuhkan sains dan sains membutuhkan perempuan," jelas Umesh Phadke, Presiden Direktur L'Oreal Indonesia di Raffles Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (8/11).

Hal yang penting untuk menghadapi perkembangan di era yang sangat dinamis ini, dimana tidak bahwa sains, teknologi, teknik, dan matematika memerlukan perempuan untuk andil didalamnya. L’ORÉAL-UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards setiap tahun memberikan dukungan untuk rencana penelitian yang dilakukan oleh para perempuan ilmuwan di tanah air. Pada tahun 2018 ini, empat perempuan ilmuwan terpilih membuktikan prestasinya melalui penelitian yang akan direalisasikan untuk perkembangan dunia medis, sains dan teknologi di tanah air.

loreal8

Keempat perempuan ilmuwan tersebut terbagi dalam 2 kategori pertama material science yang diraih oleh Athanasia Amanda Septevani, Ph.D dari Research Centre for Chemistry – LIPI, Jakarta dan Sylvia Ayu Pradanawati, Ph.D dari Surya University, Tangerang. Kemudian untuk kategori life sciences diraih oleh Dr. Yessie Widya Sari, M.Si dari Institut Pertanian Bogor dan Korri Elvanita El Khobar, Ph.D dari Eijkman Institute, Jakarta.

loreal4

Athanasia Amanda Septevani, Ph.D dari Research Centre for Chemistry – LIPI, Jakarta; mengadakan penelitian ‘Pengembangan Nanopaper Berbasis Biomassa Serat Nanoselulosa Alami sebagai Layar/Display dari Perangkat Elektronik Masa Depan’. Dimana hasil penelitian ini diharapkan dapat menjawab tantangan keterbatasan teknologi layar yang saat ini bahannya masih kaku, mudah retak saat terjatuh, dan berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui menjadi kuat, fleksibel dan keberlanjutan dalam mendukung teknologi layar masa depan.

loreal5

Sylvia Ayu Pradanawati, Ph.D, Kepala Lembaga Penjamin Mutu Internal di Surya University; mengadakan penelitian ‘Pemanfaatan Limbah Sekam Padi sebagai Anoda untuk Aplikasi Baterai Temperatur dan Tegangan Tinggi’. Dalam penelitiannya Sylvia berencana untuk memanfaatkan sekam padi yang mengandung Silicon Carbida (SiC), yang merupakan salah satu komposisi utama dalam pembuatan Anoda baterai berbasis silikon. Sekam padi sebagai bahan bakunya dengan kandungan SiC secara teoritis mampu menjadikan Anoda baterai yang baik dan stabil. Hal ini dapat membantu memenuhi kebutuhan di daerah terpencil akan sumber listrik yang aman dan awet.

loreal6

Dr. Yessie Widya Sari, M.Si, Dosen di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor; mengadakan penelitian ‘Biorefineri Mikroalga; Pemanfaatan Protein Mikroalga sebagai Material Pintar pada Pengemas Produk Makanan dan Pertanian. Penelitian yang dilatarbelakangi kepedulian terhadap triple P pada konsep sustainabilitas, yaitu  terhadap people, planet dan profit. Penelitian ini menitik beratkan dalam pembuatan kemasan makanan berbasis bioplastik yang menggunakan mikroalga yaitu alga (rumput laut).

loreal7

Korri Elvanita El Khobar, Ph.D dari Eijkman Institute, Jakarta; mengadakan penelitian ‘Penggunaan Status Metilasi Polo Like Kinase 1 (PLK1) sebagai Biomaker untuk Mendeteksi Awal Karsinoma Hati Selular (HCC) pada Penderita Infeksi Virus Hepatitis Kronis’.

Keempat perempuan ilmuwan ini akan mendapatkan dana sebesar Rp 80 juta dari penghargaan L’ORÉAL – UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2018 untuk digunakan dalam melakukan penelitian mereka.

Melalui slogan FWIS, L’Oréal Indonesia bersama Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO secara perlahan mengikis stigma yang berkembang di masyarakat mengenai kaitan antara sains dan ilmuwan perempuan. Dalam kesempatan penganugerahan penghargaan ini, Umesh Phadke, Presiden Direktur L'Oreal Indonesia berharap masyarakat memberikan dukungan kepada perempuan ilmuwan. Begitu juga dengan Prof.Dr. Arief Rachman, yang menekankan pentingnya mendukung perempuan peneliti Indonesia.

“Catatan dari UNESCO Institute for Statistics, angka ilmuwan perempuan tergolong rendah, yakni kurang dari sepertiga dari jumlah total ilmuwan. Masih ada persepsi yang mengindikasikan bahwa sains bukanlah dunia yang ramah untuk kaum perempuan,” ujar Prof. Dr. Arief Rachman, Ketua Harian KNIU Kemdikbud. “Dengan lebih banyaknya perempuan berperan di dunia sains, bukan saja kita menjawab masalah ketimpangan gender, tetapi kita juga bisa memastikan riset-riset yang diproduksi itu benar-benar yang terbaik dan sudah mempertimbangkan berbagai hal yang mungkin dulu dikesampingkan, seperti jenis kelamin, sehingga penelitian yang dilakukan bisa bersifat inklusif dan juga bermanfaat untuk semua orang.”

loreal1

Tidak hanya FWIS, L’Oréal Indonesia juga memiliki program L'Oréal Sorority in Science, menargetkan mahasiswa perempuan; serta L’Oréal Girls in Science, bagi siswi tingkat SMA.  Semua program memiliki benang merah yang sama, yakni memilih kaum perempuan yang tertarik, tengah belajar, atau mendedikasikan karir mereka di bidang sains, demi mengembangkan inovasi ilmiah dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan kemajuan masyarakat di seluruh Indonesia. Dari awal, program ini telah diakui tiga kementerian Indonesia; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Kementerian Riset dan Teknologi. Program ini juga telah mencetak 53 orang ilmuwan perempuan, dan 5 di antaranya telah diakui secara internasional.

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS